Video Monetize Ninja 468x60
Latest Updates

Ketika Allah Ingin Menghibur Kita Melalui UjianNya…

Bismillah..

Sungguh beruntung seorang Muslim itu, jika diberi ujian ia bersabar dan jika diberi nikmat ia bersyukur. Pernyataan ini bisa menjadi obat pelipur lara dikala kita sedang dirundung musibah dan kenikmatan.

Beberapa hari terakhir ini pun aku mengalami apa yang sudah menjadi ketetapan Allah, sebuah ujian. Ujian mengenai seberapa besar rasa cintaku padaNya, sebuah ujian tentang tawakal dan kesabaran, sebuah ujian mengenai selalu berhusnudzon padaNya.

Ya Allah, aku yakin, engkaulah pengatur hidup hamba. Karena itu, hamba percaya bahwa apapun yang menimpa hamba saat ini adalah bagian dari rencanaMu yang pasti berbuah kebaikan bagi hamba. Aamiin.

Memberi Semangat, Menghilangkan Kegundahan

Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mengatasi kegundahan hatinya. Secara pribadi, saya lebih menyenangi cara mengatasi kesedihan itu dengan mencoba menjadi lebih berguna bagi orang lain. Salah satunya adalah dengan menyemangati orang lain.

Entahlah, ketika akhirnya bisa membuat orang tersenyum dan bersemangat, bisa menjadikan diri ini semangat pula. Dan itu yang coba aku lakukan beberapa hari belakangan ini, saat ujian kehidupan satu-persatu datang di saat yang hampir bersamaan.

Ingin rasanya mengeluhkan semuanya. Ingin lari dari semuanya. Namun aku yakin, dibalik segala ujian ini, selalu ada hikmah dan kebaikan yang bisa kita ambil.

Untuk membagi semangat itu, nih saya bagi beberapa nasehat dari ayat al Qur’an, hadits dan perkataan ulama yang semoga bisa menghibur setiap orang yang sedang mengalami musibah.

Semakin Kuat Iman, Memang Akan Semakin Terus Diuji

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”[3]

Musibah Terasa Ringan dengan Mengingat Penderitaan yang Dialami Orang Sholih

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Musibah yang menimpaku sungguh akan menghibur kaum muslimin.”[1]

Dalam lafazh yang lain disebutkan.

“Siapa saja yang terasa berat ketika menghapi musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku. Ia akan merasa ringan menghadapi musibah tersebut.”[2] Ternyata, musibah orang yang lebih sholih dari kita memang lebih berat dari yang kita alami. Sudah seharusnya kita tidak terus larut dalam kesedihan.

Di Balik Musibah, Pasti Ada Jalan Keluar

Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Ayat ini pun diulang setelah itu,

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan, “Kata al ‘usr (kesulitan) menggunakan alif-lam dan menunjukkan umum (istigroq) yaitu segala macam kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana pun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.”[4]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bersama kesulitan, ada kemudahan.”[5]

Merealisasikan Iman adalah dengan Bersabar

‘Ali bin Abi Tholib mengatakan,

“Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran.”[6]

Musibah Awalnya Saja Terasa Sulit, Namun Jika Bersabar akan Semakin Mudah

Hudzaifah ibnul Yaman mengatakan,

“Sesungguhnya Allah tidaklah menciptakan sesuatu melainkan dari yang kecil hingga yang besar kecuali musibah. Adapun musibah, Allah menciptakannya dari keadaan besar kemudian akan menjadi kecil.”[7] Allah menciptakan segala sesuatu, misalkan dalam penciptaan manusia melalui tahapan dari kecil hingga beranjak dewasa (besar) semacam dalam firman Allah,

“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua.” (QS. Ghofir: 67)

Namun untuk musibah tidaklah demikian. Musibah datang dalam keadaan besar, yakni terasa berat. Akan tetapi, lambat laut akan menjadi ringan jika seseorang mau bersabar.

Bersabarlah Di Awal Musibah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Yang namanya sabar seharusnya dimulai ketika awal ditimpa musibah.”[8] Itulah sabar yang sebenarnya. Sabar yang sebenarnya bukanlah ketika telah mengeluh lebih dulu di awal musibah.

Pahala Orang yang Mau Bersabar Tanpa Batas

Ingatlah janji Allah,

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan bahwa ganjarannya tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij mengatakan bahwa pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa dihitung sama sekali, akan tetapi ia akan diberi tambahan dari itu. Maksudnya, pahala mereka tak terhingga. Sedangkan As Sudi mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga.[9]

Akan Mendapatkan Ganti yang Lebih Baik

Ummu Salamah -salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” Ketika, Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun menyebut do’a sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[10]

Do’a yang disebutkan dalam hadits ini semestinya diucapkan oleh seorang muslim ketika ia ditimpa musibah dan sudah seharusnya ia pahami. Insya Allah, dengan ini ia akan mendapatkan ganti yang lebih baik.

Semoga yang mendapati musibah semakin ringan menghadapinya dengan sedikit hiburan ini. Semoga kita selalu dianugerahi kesabaran dari Allah Ta’ala.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Dan atas izinNya pulalah, segala kesedihan akan terhapuskan dengan mudah.

Teringat perkataan seorang teman, sehabis mendung dan hujan yang lebat, selalu ada pelangi yang indah menanti. So, tetap ceria ya bagi siapapun yg sedang sedih. Insya Allah, Allah pasti bantu. Allah sangat sayang sama hambaNya.

Semangat !!!

Referensi :

[1] Shahih Al Jami’, 5459, dari Al Qosim bin Muhammad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[2] Disebutkan dalam Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, Ibnu ‘Abdil Barr, hal. 249, Mawqi’ Al Waroq.
[3] HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[4] Taisir Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 929, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H
[5] HR. Ahmad no. 2804. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[6] Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, hal. 250.
[7] Idem.
[8] HR. Bukhari no. 1283, dari Anas bin Malik.
[9] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/89, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.
[10] HR. Muslim no. 918.


Sumber

ENGGAN BERJILBAB DENGAN ALASAN BELUM DAPAT HIDAYAH ?

Bismillah,

Banyak dari wanita muslimah yang belum mau (atau tidak mau?!) berjilbab berdalih: "Allah belum memberiku hidayah. Do'akan aku agar segera mendapat hidayah." Maka mereka ini telah TERPEROSOK ke dalam kesalahan yang NYATA. Kami ingin bertanya: "Bagaimana engkau TAHU bahwa Allah belum memberimu hidayah?"

Jika jawabannya: "Aku tahu."

Maka jawablah dua pertanyaan ini :

1. Apakah engkau ingin mengatakan bahwa dirimu telah melihat ke dalam kitab yang tersembunyi (al-Lauhul Mahfuzh)? Bahwa dirimu telah ditulis sebagai orang yang belum atau tidak mendapatkan hidayah, dan dirimu telah tertulis sebagai orang yang celaka dan bakal masuk neraka?

2. Apakah engkau ingin mengatakan bahwa dirimu telah diberitahu oleh orang lain atau makhluk lain? Bahwa dirimu tidak termasuk wanita yang mendapatkan hidayah?

Jika kedua pertanyaan tersebut tidak mampu kau jawab, bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa Allah belum memberimu hidayah?

Duhai saudariku muslimah...
Pernahkah engkau mencoba untuk MENCATAT, berapa banyak dosa yang kau lakukan dengan "hati yang ringan" dalam setiap harinya hanya dengan SATU perintah Allah yang ENGGAN kau taati?

Siapkanlah alat tulismu dan cobalah kau catat mulai hari ini:

1. Ketika keluar rumah tanpa berjilbab, maka pada hakikatnya dirimu telah berbuat maksiat karena memperlihatkan aurat. Ada berapa orang yang bukan mahram yang lewat di depan rumahmu dan melihat dirimu "memamerkan" aurat? Catat...

2. Ketika berada di jalan menuju ke pasar atau kemana pun tujuanmu, ada berapa banyakkah orang yang bukan mahram yang melihat dirimu "memamerkan" aurat? Catat...

3. Ketika berada di tempat tujuan, tempat kerja atau apapun tempat yang kau tuju, ada berapa banyakkah orang yang bukan mahram melihatmu "memamerkan" aurat? Catat...

4. Demikian pula ketika menuju pulang ke rumahmu, ada berapa banyakkah orang yang melihat dirimu "memamerkan" aurat? Catat...

Maka cobalah kau jumlah, terhadap berapa banyak orangkah dirimu "mempertontonkan" aurat dalam sehari ini?

Lalu cobalah engkau membaca firman Allah Ta'ala berikut ini:

    وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

"Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula." (QS. Az Zalzalah: 8)

Siapakah di antara teman-temanmu atau keluargamu yang dapat membelamu ketika dirimu sudah terbujur kaku di dalam kuburmu?

Engkau menambah dosa dengan dosa, lalu dirimu mengharap tingkatan-tingkatan surga dan kemenangan seorang ahli ibadah. Apakah kau lupakan Rabb-mu saat Dia mengeluarkan Adam dari Surga menuju dunia hanya karena disebabkan satu dosa..??

Ketahuilah wahai saudariku....

Hidayah (petunjuk) ada dua macam, yaitu hidayatut taufiq dan hidayatul irsyad.

1. Hidayatut Taufiq

Semata-mata datangnya dari Allah. Sebagaimana yang dimaksud dalam firman-Nya:

    إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang YANG MAU menerima petunjuk." (QS. Al-Qashash: 56)

2. Hidayatul Irsyad

Ini dimiliki oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan setiap orang yang berdakwah ilallah, yang mengajak orang lain menuju kebaikan. Sebagaimana dalam firman-Nya:

    …وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

"…Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Asy Syura: 52).

Jenis hidayah yang ke dua ini (hidayatul irsyad), dimiliki oleh setiap orang yang berdakwah ilallah, karena orang yang berdakwah ilallah hanya memberikan sebuah KUNCI menuju jalan yang benar dan lurus kepada orang lain.

Adapun akhir perkaranya, semua kembali kepada Allah. Sehingga, pada akhirnya Allah-lah saja yang menentukan seseorang mendapatkan hidayah dari-Nya (hidayatut taufiq), ataukah tidak.
[Lihat kitab al Qaulul Mufid ‘ala Kitab at Tauhid (1/348-349)]

Maka yang menjadi masalah adalah, apakah seseorang yang sudah melihat datangnya hidayah mau menerima hidayah (petunjuk) tersebut ataukah dia LEBIH SENANG BERPALING menjauhi hidayah tersebut, lalu mengatakan, "Belum mendapat hidayah." (?!)

Orang-orang yang telah "melihat" datangnya hidayah tetapi TIDAK MAU mengikutinya, maka pada hakikatnya adalah orang-orang yang LEBIH MENYUKAI kesesatan daripada hidayah (petunjuk).

Hal ini telah digambarkan oleh Allah Ta'ala sebagaimana dalam firman-Nya:

    وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى

"Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu.." (QS. Al Fushshilat: 17)

Allah Ta'ala berfirman:

    وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya." (QS. Al-Baqarah: 196)

Allah Ta’ala berfirman:

    فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka apabila mereka tidak memenuhi seruanmu (wahai Muhammad), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itu hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim.” (QS. Al-Qashash: 50).

Wallahu a'lam.


Sumber

Doa cepat hamil



Memiliki keturunanan berupa anak yang sholeh adalah dambaan bagi setiap pasangan suami istri yang sudah menikah. Entah itu mereka yang baru saja menikah atau yang sudah bertahun-tahun melangsungkan perkawinan namun tak kunjung juga dikarunia buah hati. Bagi Anda yang telah menyempurnakan ikhtiar namun belum juga berhasil segeralah untuk mengambil wudlu dan berdo’a. Apakah dengan demikian doa merupakan cara cepat hamil?

Doa cepat hamil sesungguhnya tergantung prerogratif hak Allah SWT. Sesungguhnya Ia yang menentukan dan mengabulkan apa yang diminta oleh makhlukNya. Bisa cepat, bisa lambat bahkan bisa ditunda, namun yang perlu digarisbawahi bagi pasangan suami istri yang telah lama menikah dan belum memiliki anak tetap tidak diperbolehkan untuk berputus asa dari Rahmat Allah SWT.

Kali ini penulis ingin berbagi tips, semoga saja doa cepat hamil menurut Islam ini dapat menjadi motivasi mengarungi bahtera rumah tangga disamping pada bagian terakhir tetap akan kami sarankan untuk mengunjungi dokter kandungan untuk berkonsultasi mengenai kehamilan yang belum kunjung tiba. Insya Allah kombinasi antara sempurnanya ikhtiar dan sempurnanya doa akan menjadikan kita lebih bertawakal


Coba kita baca sejenak  keluhan seorang ibu yang ditulis pada forum kehamilan :

Selamat malam dokter :)

Saya sudah menikah 1,5 tahun namun sampai saat ini belum dikaruniai keturunan, kami berdua sudah periksakan ke dokter spesialis kandungan dan pemeriksaan laboratorium dan hasilnya kami berdua baik-baik aja, saya minta saran dan petunjuk dokter. Terima kasih atas jawabannya.

Ok..itu baru satu dari mungkin puluhan ribu penduduk Indonesia yang bahkan pertanyaannya akan lebih kompleks dan problemnya lebih berat dari pertanyaan diatas. Bagaimana dengan Anda yang mungkin para wanita yang sudah memasuki usia 40 tahun dan belum satu pun memiliki anak? Adakah kekawatiran yang luar biasa terjadi pada Anda? Ajaran Islam memberikan solusi yakni berupa doa dan itu bisa dijadikan amalan sehari-hari, sebagai ikhtiar ruhani sebagaimana yang juga telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria. Bahwa sesungguhnya mudah bagi Allah SWT untuk menghidup dan mematikan manusia ciptaannya.

Al Qurtubhi rahimahullah berkata,

ليس شيء أقر لعين المؤمن من أن يرى زوجته وأولاده مطيعين لله عز وجل.

“Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang mukmin selain melihat istri dan keturunannya taat pada Allah ‘azza wa jalla.” Perkataan semacam ini juga dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/333)

Mari kita amalkan doa memohon keturunan yang telah diabadikan dalam Alqur’an ini sehingga kita bisa kuat dan ridla dengan segala kehendakNya dengan begitu diri kita tumbuh jiwa ikhlas dalam menghamba sebagaimana ilmu ikhlasnya Mas Erbe Sentanu pendiri Kata Hati Institute yang memiliki problem sama mengenai belum memiliki anak pada usia hingga bertahun-tahun pernikahannya. Namun kini keiklasan dan ketabahannya telah berbuah manis bermula dari vonis dokter bahwa sang istri dinyatakan tidak subur menjadi bisa subur dan memiliki anak sesuai dengan kehendakNya.

Doa Nabi  Zakaria Memohon Diberi Anak yang Sholeh

 رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

 Rabbana hablana min azwajina wa zurriyatina qurrata a’yunin, waj’alna lil muttaqiina imaama.

Artinya: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74).

 Doa Nabi Ibrahim a.s. ketika belum punya anak:

 رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Rabbi hablii min ash-shalihiin.

Artinya: Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (As-Shaffat: 100)

Istrinya, Sarah, adalah seorang yang mandul dan usianya sudah lanjut. Berkat doa di atas, Nabi Ibrahim a.s. dianugerahi Ismail a.s. (dari istrinya Hajar) dan Ishak a.s. (dari istrinya Sarah).

Sebagai tambahan amalan Anda bisa mencoba untuk senantiasa puasa Senin Kamis atau Puasa Dawud dan memperbanyak sedekah terutama untuk anak-anak yatim piatu. Sebagai pancingan untuk meningkatkan hormone keibuan Anda bisa mendekatkan diri dengan belajar mengasuh bayi saudara atau tetangga sepenuh hati seolah-olah itu adalah anak Anda sendiri.

Sebagai tambahan kunci sukses untuk kehamilan adalah hubungan seksual yang bermutu dan proses pembuahan antara sel telur istri anda dan sel sperma suami anda yang sempurna. Untuk semua itu, yang diperlukan adalah hubungan seksual yang pas dengan masa subur istri anda. Bila Anda saat ini belum melakukan pemeriksaan, maka inilah beberapa pemeriksaan yang harus Anda lakukan :


  • Pemeriksaan organ kelamin internal istri (kedua indung telur, saluran indung telur dan kantung rahim) dan anda sendiri (kantung testis).
  • Pemeriksaan organ kelamin eksternal istri anda (vagina) dan anda sendiri (penis).
  • Pemeriksaan siklus menstruasi istri anda.
  • Pemeriksaan kualitas sel sperma anda (kelainan jumlah, gerakan maupun bentuk sperma).
  • Ada tidaknya zat antibodi sperma di tubuh anda maupun istri anda.

Bilamana setelah dilakukan pemeriksaan - pemeriksaan itu, hasilnya Anda berdua dinyatakan baik - baik saja, maka seharusnya tidak ada masalah jika Anda berdua ingin memiliki seorang anak. Namun jika Anda masih belum yakin terutama mengenai ikhtiar yang harus dilakukan terutama mengenai pemahaman dan seluk beluk kehamilan, saran dari dokter kandungan yang telah berhasil membantu ribuan orang untuk hamil dapat Anda coba. Silahkan baca : dokter ahli kandungan ini memadukan pemeriksaan modern dan do’a sungguh-sungguh untuk keberhasilan kehamilan.


Sumber

Mewaspadai Kerasnya Hati

Hati yang dimiliki setiap insan terkadang ia selembut air, tapi juga terkadang sekeras batu. Lembutnya hati karena taatnya si pemilik hati kepada Allah -Azza wa Jalla-. Sebaliknya, kerasnya hati karena kedurhakaan si pemilik hati kepada Allah Sang Pencipta Allam Semesta.

Seorang yang lembut hatinya akan mudah menerima kebenaran yang datang dari Robb-nya, dan mudah menangis saat mengingat kebesaran atau siksaan Allah, dan segera bertobat saat ia melanggar batasan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Adapun orang-orang yang keras hatinya, maka hatinya tertutup dan susah dalam menerima kebenaran. Karena, kekerasan hatinya, ia susah menangis saat diingatkan tentang siksaan Allah dan kebesaran-Nya. Pemilik hati yang keras terus menerus di atas pembangkangan dan kedurhakaan. Lisannya amat berat mengucapkan kata tobat. Inilah yang disinyalir oleh Allah -Azza wa Jalla- dalam firman-Nya,

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad : 24)

Orang yang keras hatinya akan susah menerima kebenaran yang Allah turunkan melalui kitab-kitab-Nya dan lisan para rasul-Nya.

Hatinya bagaikan batu yang yang tidak ditembus oleh air saat hujan turun. Allah -Ta’ala- berfirman,

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, Karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Baqoroh : 74).

Seorang muslim ketika sampai kepadanya perintah dan larangan Allah, maka hendaknya segera melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi larangannya sebelum hatinya membatu bagaikan batu cadas di pegunungan. Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Hadid : 16)

Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam tafsirnya berkata, “Allah melarang kaum mukminin untuk menyerupai orang-orang yang mengemban Al-Kitab sebelum mereka dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Tatkala telah berlalu masa yang panjang pada mereka (ahli Kitab), maka mereka mengganti Kitab Allah yang ada di tangan mereka, memperjualbelikannya dengan harga murah, membuangnya di balik punggung mereka. Mereka mulai menghadap kepada pemikiran-pemikiran manusia yang bertentangan, dan ucapan-ucapan yang simpang siur, mereka membebek buta kepada tokoh-tokoh (pendeta) dalam urusan agama Allah, dan menjadikan ulama, dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan  dari selain Allah. Ketika itulah, hati mereka membatu. Lantaran itu, mereka tak mau menerima nasihat, serta hati mereka tak mau luluh dengan janji dan ancaman”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (8/20)]

Pembaca yang budiman, adapun kerasnya hati, maka para ulama kita menyebutkan beberapa diantara sebab-sebab yang membuatnya keras bagaikan batu:

1. Banyak Tertawa

Salah satu diantara sebab membatunya hati seseorang bagaikan mayat yang sudah kehilangan ruh adalah memperbanyak tawa.

Tertawa adalah perkara yang boleh saja sepanjang masih dalam batasan syariat, yaitu tidak keseringan dan bukan menjadi kebiasaan, dan tidak menertawakan kebaikan dan pelakunya, serta menjaga adab atau citra diri saat tertawa (misalnya, tidak terbahak atau tidak memukul orang, dan lainnya).

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah engkau memperbanyak tawa, karena banyak tawa akan mematikan hati”. [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan, dan Ahmad dalam Al-Musnad (2/310). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalamAsh-Shohihah (no. 930)]

Mengapa seorang yang banyak tertawa akan mati dan membatu hatinya? Karena, seorang yang memperbanyak tawa akan sulit menerima nasihat yang berisi kebenaran. Itulah sebabnya kita sering melihat ada orang yang ketika dibacakan kepadanya Al-Qur’an, maka ia tertawa dan tidak serius mendengarkannya. Bahkan terkadang ia memperolok-olokkan Al-Qur’an dan orang yang membacakannya kepada dirinya. Semua ini adalah tanda bahwa ia tak mau menerima nasihat dari Allah dan Rasul-Nya.

Selain itu, banyak tawa adalah tanda hilangnya khosy-yah (takut)nya seorang hamba kepada Allah. Seorang yang takut kepada Allah akan lunak hatinya dan mudah menerima nasihat dan kebenaran dari Allah -Azza wa Jalla-.

Itulah hikmahnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menganjurkan kepada kita agar sedikit tawanya, dan banyak menangis karena takut kepada Allah sebagaimana dalam sabdanya,

لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

“Andai kalian tahu sesuatu yang aku tahu, maka kalian akan sedikit tertawa, dan banyak menangis”. [HR. At-Tirmidziy. Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Fiqh As-Siroh (479)]

Orang yang banyak tertawa akan susah menangis saat ia diingatkan tentang neraka, dan siksa Allah -Azza wa Jalla-, baik di dunia, maupun di akhirat. Dia lebih senang terbawa dalam canda melampaui batas. Banyak tertawa bukanlah ciri dan tanda orang-orang sholih dari kalangan nabi dan rasul serta pengikut mereka yang setia. Banyak tawa adalah tanda orang-orang yang lalai dari Allah dan akhirat. Karenanya kami amat sedih saat melihat tersebarnya kebiasaan banyak tertawa di kalangan kaum muslimin, dari anak kecil sampai orang tua beruban. Parahnya lagi, ada diantara mereka yang menjadikannya sebagai profesi sebagai seorang pelawak dan tukang banyolan.

2. Banyak Makan

Banyak makan adalah salah satu sebab hati seseorang akan membatu, sebab banyak makan akan membuat orang akan malas berbuat.

Tak ada yang dipikirkan oleh orang yang banyak makan, kecuali makanan, cara mendapatkannya, metode memasaknya, dan aneka ragamnya, sehingga waktunya akan habis hanya dalam memikirkan perut. Adapun memperbanyak sedekah dan infaq, maka hal itu jauh dari pikiran dan catatan hidupnya. Tangannya lebih ringan membeli makanan dibanding berinfaq di jalan Allah.

Orang yang seperti ini akan rakus, dan kikir, serta malas beramal sholih atau mengejar kebaikan di sisi Allah. Orang yang seperti ini malas mencari ilmu dan mempelajarinya di majelis-majelis taklimnya orang-orang berilmu. Sebaliknya, ia akan banyak bicara dan sok pintar. Inilah yang pernah disyaratkan oleh Nabiyyullah Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya saat beliau mengingatkan bahayanya kaum pengingkar sunnah yang mau berpegang dengan Al-Qur’an, tapi meninggalkan sunnah,

أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلَا يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ يَقُولُ عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلَالٍ فَأَحِلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ

“Ingatlah sungguh aku telah diberi Al-Kitab, dan semisalnya bersamanya. Ingatlah, hampir-hampir akan ada seseorang yang kenyang di atas ranjangnya seraya berkata, “Berpeganglah saja dengan Al-Qur’an ini. Karenanya, apa saja yang kalian temukan di dalamnya berupa sesuatu yang halal, maka halalkan, dan apa saja yang kalian temukan di dalamnya beruapa sesuatu yang haram, maka haramkanlah”. [HR. Abu Dawud (no.). Hadits ini di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (163)]

Di dalam hadits ini, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menyebutkan orang yang kenyang.

Ahli Hadits Negeri India, Al-Imam Syamsul Haqq Al-Azhim Abaadi -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan maknanya, “Ia adalah kinayah tentang kepandiran, dan pemahaman buruk yang timbul dari kenyangnya seseorang atau timbul dari kebodohan yang menyertai gaya hidup mewah, dan ketertipuan dengan harta dan kedudukan”. [Lihat Aunul Ma'bud (10/124)]

Itulah akibat banyak makan; ia akan membuat pelakunya malas dan tak mau menerima kebenaran sebagai tanda kerasnya hati.

Seorang ulama salaf, Bisyr bin Al-Harits -rahimahullah- berkata,

خَصْلَتَانِ تُقْسِيَانِ الْقَلْبَ: كَثْرَةُ الْكَلاَمِ، وَكَثْرَةُ اْلأَكْلِ

“Dua perkara yang akan mengeraskan hati: Banyak bicara, dan banyak makan”. [Lihat Al-Hilyah (4/22) oleh Abu Nu'aim]

Al-Imam Abu Bakr Al-Marrudziy -rahimahullah- berkata kepada Al-Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah-, “Apakah seseorang dapat merasakan kehalusan hatinya dalam keadaan kenyang?” Al-Imam Ahmad -rahimahullah- berkata, “Saya pandang tidak?” [Lihat Kitab Al-Waro' (hal. 98/no. 323) karya Al-Marrudziy, , dengan tahqiq Samir bin Amin Az-Zuhairiy, cet. Maktabah Al-Ma'arif]

Jadi, tak mungkin akan berkumpul antara lembutnya hati dengan banyaknya makan, sebab banyak makan akan mewariskan kelalaian dan perasaan malas dalam melakukan kebaikan dan amal sholih. Selain itu, banyak makan akan membuat nafsu hewani seseorang bergejolak. Sedang nafsu hewani tersebut akan mendorong dirinya berbuat keji dan mesum.

3. Banyak Melakukan Dosa

Para pembaca yang budiman, satu lagi diantara perkara yang akan membuat hati seseorang membatu adalah banyak melakukan dosa.

Dosa yang dilakukan oleh seseorang (apalagi jika ia dosa besar) akan menyebabkan hati kita akan tertutupi oleh noda-noda maksiat dan dosa tersebut. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya,

Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”.(QS. Al-Muthoffifin:14 ).

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِيْ قَلْبِهِ نُكْتَةً سَوْدَاءَ, فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

“Sesungguhnya orang yang beriman jika melakukan suatu dosa, maka dosa itu menjadi titik hitam di dalam hatinya. Jika dia bertaubat dan mencabut serta berpaling (dari perbuatannya) maka mengkilaplah hatinya. Jika dosa itu bertambah, maka titik hitam itupun bertambah hingga memenuhi hatinya.” [HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (3334), dan Ibnu Majah Sunan-nya (4244). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (1620)]

Hati yang ada pada diri setiap orang, ibarat tubuh seseorang. Tubuh itu kalau tidak mengenakan apa-apa, maka akan terasa ringan. Demikian pula hati, kalau sedikit kesalahannya, dan mudah tersentuh sehingga mudah meneteskan air mata.

Dosa yang dikerjakan oleh seseorang akan mematikan hati, sedang ketagihan dengannya akan membuat diri seorang hamba menjadi hina dina. Jika anda menginginkan hati ini hidup, maka hendaknya meninggalkan dosa, sebab itulah kehidupan hati. Oleh karena itu, setiap orang menginginkan hatinya hidup hendaknya ia menjauhi maksiat dengan sejauh-jauhnya, karena maksiat dan dosa itu seperti api yang akan membakar hati dan membinasakannya. Sebaliknya, ketaatan kepada Allah -Azza wa Jalla-ibarat air hujan yang akan menyegarkan tanaman yang ia basahi. [Lihat Jurnal AKHWAT (vol.1/hal.3)]

4. Melanggar Perjanjian dengan Allah

Melanggar perjanjian dengan Allah merupakan sebab kerasnya hati seseorang. Dahulu Bani Isra’il (Yahudi) pernah berjanji kepada Allah dan Rasul-Nya untuk menegakkan sholat, menunaikan zakat, beriman kepada para rasul (termasuk Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-), menolong mereka, dan berkorban di jalan Allah. Namun mereka menyalahi janji itu sebagaimana dalam firman-Nya,

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, kami laknat mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya. Dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka, kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat). Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Maa’idah : 13)

Hal yang serupa banyak terjadi pada kaum muslimin. Mereka bersyahadat setiap hari, namun masih saja ada diantara mereka yang melakukan kesyirikan dan bid’ah. Padahal dua kalimat syahadat tersebut yang diucapkannya setiap hari, melarangnya dari perbuatan syirik dan bid’ah (mengada-adakan suatu ajaran). Tak heran jika banyak diantara mereka yang berani menolak kebenaran, karena kerasnya hati mereka.

Bahkan banyak diantara mereka yang lancang meninggalkan sholat, dan enggan menunaikan zakat. Demikian karena hatinya tertutup dari kebaikan. Kalaupun ia melakukan kebaikan, ia lakukan bukan karena mencari wajah Allah, tapi karena terpaksa atau ingin mencari perhatian dan popularitas. Nas’alullahal afiyah was salamah min qoswatil quluub.

Sumber

Galaxy Camera 2

Galaxy Camera 2
Galaxy Camera 2: By combining the latest advances in photography and smart technology, the GALAXY Camera™ 2 takes shooting and sharing to a new level. With 21x Optical Super Long Zoom, black color, 4.8” HD Super Clear Touch Display.



Find this cool stuff here: http://zocko.it/LDBA7

Dosa Dibalik Jilbab “Gaul”

Oleh: Ust. Abu Rufaid Agus Suseno, Lc

Alhamdulillah, kesadaran memakai jilbab telah mulai tumbuh di kebanyakan wanita muslimah di tanah air kita. Memakai jilbab sudah bukan merupakan barang aneh atau terlarang di tempat kerja. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan terbukanya era globalisasi, banyak sekali dari wanita muslim yang ingin berpakaian syar’i, mereka ingin memakai jilbab, tapi mereka juga ingin tampil modis dan cantik. Mereka memakai jilbab karena mengikuti trend atau agar terlihat “Islami”, terlihat lebih anggun dan cantik, atau hanya ikut-ikutan saja. Maka mereka pun lebih mementingkan faktor keindahannya, keanggunan dan gaya, TANPA MEMPEDULIKAN SUDAH BENAR ATAU BELUM JILBAB YANG DIGUNAKANNYA.
Tak pelak, kita dapatkan seorang wanita muslim mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan rambutnya, namun berpakaian tipis dan transparan, atau ketat sehingga menampakkan lekuk tubuhnya. Contohnya, kepala dibalut kerudung/jilbab, tapi berbaju atau berkaos ketat, bercelana jeans atau legging yang mencetak lekuk tubuhnya.
Fenomena inilah yang mulai menjamur dan membingungkan kebanyakan orang awam, sebagian mereka berkomentar “MASIH MENDING PAKAI JILBAB GAUL DARIPADA GAK PAKE SAMA SEKALI!!” Yang lain berkomentar, “LHO, INI KAN MASIH DALAM TAHAP BELAJAR?!”, “YANG UDAH PAKE JILBAB DIKOMENTARIN TERUS, TAPI GIMANA SAMA WANITA YANG PAKE BIKINI? KOK GAK DIKOMENTARIN?” Dan komentar lainnya yang terkesan benar, tapi sejatinya sangat-sangat jauh dari kebenaran. Karena seorang muslim dituntut untuk menjalankan agama secara kaffah (total dan sempurna).

BAGAIMANA ISLAM MEMANDANG HAL FENOMENA INI?

ADAKAH DOSA DIBALIK JILBAB GAUL?

Jikalau kita cermati, jilbab yang dipakai oleh wanita muslimah itu bermacam-macam. Bisa kita bagi secara umum menjadi 3 macam jilbab, yaitu:

- Jilbab besar,
- Jilbab biasa,
- Jilbab gaul atau jilbab “funky bin jilbab nyekek leher” saja

Simak penjelasannya satu-persatu

- Jilbab besar adalah jilbab syar’i, yaitu jilbab yang menutup seluruh aurat, tidak menjadi perhiasan dan pusat perhatian, tidak tipis, tidak ketat, tidak menyerupai lelaki, tidak menyerupai wanita-wanita kafir, tidak berparfum dan bukan termasuk pakaian syuhrah. Pakaian syuhrah adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan untuk meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal (yang dipakai seseorang untuk berbangga dengan dunia & perhiasannya) maupun pakaian yang bernilai rendah (yang dipakai seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya’). (Imam Asy Syaukani dalam Nailul Athar II/94)

- Adapun jilbab biasa adalah sama dengan di atas, namun dengan ukuran yang sedang, tidak sebesar jilbab di atas. Hukum jilbab seperti ini adalah tidak mengapa, asal sifat-sifat yang ada pada jenis pertama (menutup seluruh aurat, tidak menjadi perhiasan dan pusat perhatian, tidak tipis, tidak ketat, tidak menyerupai lelaki, tidak menyerupai wanita-wanita kafir, tidak berparfum dan bukan termasuk pakaian syuhrah) masih bisa dipertahankan.

- Sedangkan jilbab gaul adalah jilbab yang lagi booming sekarang ini. Contoh-contohnya:
Ada yang memakai kerudung dengan bawahan rok yang hanya sebetis/ malah kain yang dipakai berbelah di depan (split), ada yang hanya mengikatkan kerudung pada kepala tanpa menutup dada, ada yang memakai bawahan hanya ngepas pada mata kaki dan tanpa kaos kai, ada juga yang memakai baju berlengan panjang hingga pergelangan tangan tanpa decker/kaos tangan, sehingga jika diangkat tangannya maka akan terlihat perhiasan yang ada di tangannya, ada yang pakai kerudung tapi untaian rambutnya lebih panjang daripada kerudungnya ada yang pakai kerudung “saringan tahu” karena saking tipisnya sehingga rambut dan ikat rambutnya terlihat jelas, ada yang pakai jilbab dengan corak warna yang mencolok sehingga bisa mencuri perhatian sekitar terutama laki-laki. Ada yang menghiasi jilbab dengan renda dan asesoris yang mencolok seperti bros, yang terakhir, ada yang jilbab “nyekek leher” lalu luarnya ditambah kerudung/kain yang berbeda warna dengan yang di dalam, yang terlihat seperti “Biarawati Nasrani” …wal iya dzubillah.
Bagi wanita muslimah yang memakai jilbab jenis ketiga ini, apakah bisa dikatakan sudah cukup dan lebih “mending” dan baik daripada yang tidak pakai sama sekali?
Jawabannya, justru bisa jadi wanita tersebut berdosa karena melanggar batasan-batasan syari’at tentang jilbab dan busana muslimah. Hal ini jika kita cermati, niscaya banyak sekali penyimpangan-penyimpangan dari jenis jilbab “gaul” ini, antara lain:

A. JILBAB GAUL TIDAK MENUTUP AURAT SECARA SEMPURNA (HANYA “MEMBUNGKUS” AURAT)

Aurat wanita adalah seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan. Namun, banyak dari busana muslimah saat ini, tidak menutupi aurat secara keseluruhan. Masih ada saja celah-celah yang menampakkan aurat mereka. Di antara mereka masih ada yang menampakkan leher, lengan, tangan, kaki. Padahal jilbab syar’i adalah yang menutup aurat secara sempurna, kecuali muka dan telapak tangan saja.
Dari Abu Dawud, dari Aisyah berkata, bahwa Asma suatu kali mendatangi Rasulullah dengan mengenakan pakaian tipis lalu Rasulullah berkata kepadanya,”Wahai Asma’, wanita yang telah haid (maksudnya telah baligh), tidak boleh terlihat darinya kecuali ini, beliau mengisyaratkan ke mukanya dan telapak tangannya.” (HR.Abu Dawud no.4104)

B. JILBAB GAUL MENARIK PERHATIAN KAUM LELAKI

Di antara tujuan jilbab adalah melindungi diri dari godaan lelaki dan menghindar dari fitnah, namun jilbab gaul justru malah menarik perhatian kaum lelaki. Bagaimana mungkin jilbab justru menarik perhatian kaum lelaki? Hal ini disebabkan antara lain:

- Jilbab gaul berwarna warni dan dihiasi berbagai macam motif. 

Syaikh al Albani menegaskan, “Tujuan disyari’atkannya memakai jilbab adalah untuk menutup perhiasan wanita, maka tidak masuk akal jika seorang wanita muslim memakai jilbab yang penuh motif & hiasan”. (Jilbab Mar’ah Muslimah: 120)  Oleh karenanya, Allah berfirman,”Dan janganlah menampakkan perhiasannya” (QS.An Nur: 31). Keumuman ayat ini menunjukkan bahwa hiasan yang tidak boleh ditampakkan adalah mencakup pakaian itu sendiri jika dipenuhi oleh hiasan yang menarik perhatian kaum lelaki.

APAKAH BERARTI SEORANG WANITA MUSLIM HARUS MEMAKAI PAKAIAN HITAM?

Tidak juga, karena kriteria pakaian bagi muslimah adalah pakaian yang berwarna lazim atau familiar, tidak menjadi pusat perhatian. Sehingga, jika suatu daerah justru membenci warna hitam, maka tidak mengapa dia memilih pakaian berwarna terang seperti merah, hijau, dll jika termasuk pakaian yang lazim dipakai.
Ibrahim an Nakha’i suatu hari bersama Alqamah mendatangi para istri Nabi, mereka berdua mendapatkan istri para Nabi memakai pakaian berwarna merah. (Jilbab Mar’ah Muslimah: 122)

- Jilbab gaul tipis dan transparan

Menutup aurat tidak mungkin terwujud dengan pakaian tipis dan transparan, justru dengan pakaian tipis, akan menambah fitnah dan menjadi hiasan bagi kaum wanita. Karenanya Nabi ﷺ bersabda, ”Dua golongan dari ahli Neraka yang tidak pernah aku lihat: seseorang membawa cambuk seperti ekor sapi yang dia memukul orang-orang, dan perempuan yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepalanya bagai punuk onta yang bergoyang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan baunya,sekalipun ia bisa didapatkan sejauh perjalanan sekian dan sekian.” (HR.Muslim)

Ibnu Abdil Barr mengatakan,”Makna ‘kasiyatun ‘ariyatun’ (berpakaian tapi telanjang) adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutup dengan sempurna). Mereka berpakaian, namun hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Mar’ah Muslimah: 125-126)

- Jilbab Gaul ketat, memakai jilbab itu bertujuan menghindari fitnah, dan hal ini tak mungkin terwujud dengan memakai pakaian ketat. Meskipun terkadang pakaian ini menutupi warna kulit, namun pakaian seperti ini menampakkan sebagian bahkan seluruh lekuk tubuh.

- Jilbab Gaul berparfum, padahal Nabi ﷺ menegaskan,”Tidaklah seorang wanita memakai minyak wangi lalu keluar melewati sebuah kaum supaya mereka mencium parfumnya, maka sesungguhnya wanita itu adalah pezina.” (HR.Ahmad)

- Jilbab Gaul menyerupai wanita-wanita kafir, karena biasanya jilbab gaul mengikuti mode yang sedang berkembang di dunia barat kemudian dipoles sedikit dengan nuansa Islami, belum lagi dengan model yang sedang nge- trend yang menyerupai biarawati nasrani..wal iya dzubillah

MENGAPA FENOMENA INI SEMAKIN MARAK DAN DIGANDRUNGI OLEH SEBAGIAN REMAJA PUTERI DAN WANITA MUSLIMAH?

Boleh jadi hal ini disebabkan pengetahuan mereka yang minim mengenai jilbab yang syar’i. Sehingga mereka hanya ikut-ikutan saja, sebab pemahaman keIslamannya masih minim. Atau mereka termakan berbagai propaganda musuh-musuh Islam yang ingin menggiring kaum muslimah keluar rumah dalam keadaan “telanjang” dengan alasan emansipasi, kesetaraan gender,dll. Propaganda lainnya yang menyebutkan bahwa jilbab hanya adat dan budaya negara Arab saja, dsb.

Bagaimana solusinya? Tentunya dengan menanamkan pendidikan Islam secara menyeluruh dan berkesinambungan kepada para generasi muda umat ini dimulai dari diri mereka sendiri.

Wallahu A’lam

Sumber

Fenomena Jilboobs dan Mempermainkan Jilbab

Oleh : Ira Oemar


Akhir-akhir ini di media sosial dan forum diskusi (seperti Kaskus) sedang ramai dibahas soal “jilboobs”. Beberapa teman FB saya juga men-share link berita dan foto dari liputan6.com soal fenomena jilboobs. Sedih, miris, prihatin, geram, marah atas fenomena tersebut, membuat saya tergelitik menuliskan ini.

What is jilboobs? Itu kata plesetan dan gabungan dari kata jilbab+boobs (payudara). Kenapa bisa muncul kata-kata jilboobs? Karena belakangan ada fenomena ABG dan remaja wanita yang kepalanya mengenakan jilbab, namun baju yang dikenakan sangat ketat membentuk lekuk-liku tubuhnya, terutama bagian payudara yang seolah sengaja ditonjolkan. Belum lagi bagian tubuh lainnya seperti perut, pinggang, pinggul, pantat, semuanya serba ketat terbungkus atau sengaja sebagian dari organ tersebut dibuat tidak tertutup dan kelihatan kulit tubuhnya.

Inna lillaahi wa inna ilaihi roji’uun... Inilah yang oleh Rasulullah Muhammad SAW digambarkan dalam salah satu hadits: "Dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat; yakni suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dengannya ia memukuli orang dan wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, mereka berlenggak-lenggok dan condong (dari ketaatan), rambut mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan sejauh ini". (HR. Muslim).Na’udzubillaah..., mencium bau surga saja tak dapat, padahal bau surga sudah tercium dari jarak yang sangat jauh.

Seperti apa berpakaian tapi telanjang itu? Ya seperti yang sekarang marak, secara harfiah memang memakai baju, tapi seluruh lekuk-liku tubuhnya kelihatan jelas, bisa jadi karena ketatnya baju menempel di badan, bisa juga karena “kurang bahan” atau nomornya kekecilan (remaja umur 17 tahun pakai kaos T-shirt adiknya umur 7 tahun), bisa saja karena tipisnya bahan sehingga menerawang semua yang ada di balik kain. Celakanya, gaya pakaian seperti itulah yang kini banyak dikenakan dipadu dengan jilbab penutup kepala.

Entah apa yang ada dipikiran para cewek jilboobers itu ketika mereka memutuskan mengenakan jilboobs. Apakah sekedar ikut-ikutan trend menutup kepala? Mungkin rambutnya ketombean, rambutnya tipis karena rontok, rambutnya rusak gara-gara kebanyakan dikeriting dan dilurusin, keseringan di cat warna-warni, atau sudah mulai ubanan, maka ditutuplah rambutnya. Disini selembar kain penutup kepala fungsinya sebagai penolong semata. Makanya yang ditutupi HANYA KEPALA, tapi TIDAK MENUTUP LEHER apalagi DADA. Bahkan tak jarang mereka yang rambutnya panjang, sengaja menyembulkan ujung rambutnya di balik kain jilbab yang cuma seiprit. Apa maksudnya? Apakah mau membuat trendsetter jilbab berbuntut?

Ironisnya, para jilboobers itu bangga dengan penampilannya, sampai membentuk satu fanpage di FB bernama “Jilboobs Community”. Saya mendapatkan tautannya dari berita di liputan6.com yang banyak di share FB’ers. Penasaran, saya click link-nya dan disitu saya temukan 26 foto para jilboobers yang pede memajang fotonya. Rupanya liputan6.com mengambil foto-foto dari fanpage ini, kemudian wajahnya dikaburkan. Di fanpage Jilb***** ****unity, wajah mereka tampak jelas. Ciri khasnya : mengenakan selembar kain menutupi kepala, tapi semua pakaiannya full pressed body, bahkan ada beberapa yang memakai kaos lengan pendek bahkan kaos model you can see. Astaghfirullah..., apa maksud mereka membuat fanpage seperti itu dan berlomba-lomba memamerkan foto-fotonya? Adakah itu maksudnya ajakan untuk mempopulerkan trend berbusana jilboobs?

PARA PENDUSTA AGAMA

Entah apakah mereka benar-benar “Muslim” atau bukan, entah mereka mengenal “manual book” kaum Muslim atau tidak, sehingga mereka bangga bisa mempelesetkan jilbab menjadi jilboobs. Mungkin yang mereka pahami adalah trend fashion, BUKAN PERINTAH ALLAH untuk MENUTUP AURAT. Mereka mungkin bahkan tak paham atau belum pernah dengar ayat Al Qur'an yang artinya : “… Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung hingga ke dadanya” (Q.S. An-Nuur 24, ayat 31). Atau ayat yang lain : “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’ ...” (Q.S. Al-Ahzab 33, ayat 59). Dan firman Allah lainnya lagi : “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” (Q.S. Al-A’raf, ayat 26).

Tidak ada satupun ayat yang memerintahkan kaum Muslimah sekedar menutup kepala atau menutup rambut apalagi cuma sebagian rambut. Jelas disebutkan agar kerudung/jilbab itu dipakai HINGGA KE DADA. Bukannya malah sengaja menampakkan dada. Jadi kalau mereka membuat trend mode sendiri, PURA-PURA BERJILBAB padahal ingin menonjolkan tubuhnya, maka sesungguhnya mereka sedang membuat aturan sendiri yang melenceng dari aturan Allah. Mereka itulah yang disebut MENDUSTAKAN AYAT-AYAT ALLAH! Karena perilaku mereka-lah maka jilbab dijadikan bahan tertawaan, bahan cemoohan dan sindiran, dipelesetkan jadi “jilboobs”. Mereka itulah yang mencoreng citra jilbabers, membuka celah bagi mereka yang memang tak setuju jilbab, untuk mencari pembenaran dengan menuding jilboobs lebih menggoda dan sensual ketimbang yang berpakaian sopan meski tak berjilbab. Padahal, jilboobs memang tak bisa dijadikan acuan, sebab jilboobs itu sendiri sudah MELENCENG DARI PERINTAH ALLAH. Bagaimana tak dibilang melenceng, jika Allah memerintahkan agar menutupi dada, eeh..., mereka malah menonjolkan dada. Allah memerintahkan menutup aurat, mereka malah bangga mengumbar aurat. Sungguh benar apa yang dilihat Rasulullah SAW tentang wanita yang berpakaian namun telanjang, kini menjadi fenomenal.

Rasulullah SAW bersabda: “Akan ada pada akhir umatku nanti wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, kepala mereka seakan-akan punuk unta, laknatlah mereka karena sesungguhnya mereka adalah wanita-wanita terlaknat!”. Nah, belakangan, ada fenomena baru juga dalam berjilbab, yaitu kepala bagian belakang/atas ada gumpalan serupa konde. Ternyata, model-model jilbab yang banyak dijual di toko-toko ada yang menyertakan “konde buatan”. Biasanya terbuat dari potongan-potongan kain yang digumpalkan hingga sebesar kepalan tangan orang dewasa, ada yang bentuknya lonjong tinggi, ada pula yang lebar ke samping. Itulah yang membuat ketika jilbab itu dikenakan akan ada tonjolan seperti konde. Apa maksudnya?! Agar dikira berambut panjang digelung? Atau sekedar hiasan agar terlihat menonjol seperti punuk unta?

MEREKA YANG MEMPERMAINKAN SYARI’AT

Allah berfirman : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab, ayat 36). Dan Allah juga berfirman di dalam surat Al-Kahfi : “Katakanlah: Apakah (mau) Kami beritahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia saja perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat usaha yang sebaik-baiknya. Mereka itulah orang-orang yang mengingkari (kufur) terhadap ayat-ayat Allah dan menemui-Nya, maka hapuslah amal pekerjaan mereka, dan Kami mengadakan suatu pertimbangan terhadap (amalan) mereka di hari kiamat. Demikianlah, balasan mereka ialah jahanam, disebabkan mereka kufur/ingkar dan karena mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan Rasul-Ku sebagai olok-olok. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.” (Q.S. Al-Kahfi, ayat 103–107)

Rasanya firman Allah di atas telah jelas, tak perlu multi tafsir lagi. Inilah sebutan dari Allah kepada orang-orang menjadikan ayat-ayatNYA sebagai olok-olok (mempermainkan, menjadikan guyonan, pelesetan), orang-orang yang menjalankan ketetapanNYA dengan ‘sak penake dewe’ alias membuat/mengada-adakan pilihan lain :

1.Orang yang mendurhakai Allah dan RasulNya;

2.Orang yang sia-sia saja perbuatannya;

3.Orang yang ingkar (kufur) terhadap ayat-ayat Allah;

4.Orang yang hapus amal pekerjaannya.

Nah, para pengolok-olok ayat-ayat Allah ini macam-macam jenisnya, bukan hanya jilboobers saja. Ini ada beberapa istilah yang saya ambil dari status FB teman saya :

1.Jilass (ass = pantat), yaitu mereka yang menutup kepalanya dengan jilbab tapi menonjolkan/memperlihatkan pantatnya.

Beberapa waktu lalu saat Ramadhan ada 2 wanita muda yang numpang sholat di masjid kantor saya. Selesai sholat, mereka melipat kembali mukenah yang memang tersedia di masjid itu. Saya lihat, tiap kali bergerak bagian tubuhnya terbuka sana sini. Kulitnya terlihat jelas di bagian pinggul, pinggang, perut. Maklum dia pakai celana hypster yang hanya sampai di ujung pinggul saja, bahkan (maaf) celana dalamnya pun kelihatan jelas, beberapa cm menonjol di atas celana hypsternya. Sementara blus kaos yang dipakai sepertinya ukurannya 2-3 nomor lebih kecil dari yang seharusnya. Makanya ngatung banget, cuma sampe perut, udhelnya saja kelihatan tiap kali tangannya menjulur ke atas. Jadi, paduan kaos ngatung dan celana hypster itu membuat dari depan kelihatan perut bagian bawah, sedangkan dari belakang tampak belahan pantatnya dengan jelas.

2.Jilcuss (accused = terdakwa), yaitu mereka yang mengenakan jilbab disaat posisinya jadi terdakwa. Bahkan Malinda Dee pun mengenakannya kalau di ruang sidang.

3.Jiltics (politics = pencitraan politik), yaitu mereka yang mengenakan jilbab disaat ada maksud-maksud politis demi kepentingan pencitraan semata. Begitu hajatnya tercapai/ selesai, maka ditanggalkan kembali jilbab itu.


Apakah mereka mengira ALLAH bisa DIBOHONGI?!

Apakah mereka mengira ALLAH BUTUH jilbab mereka?!

Apakah mereka mengira jika melepas/mempermainkan jilbab maka ALLAH yang rugi?!

SUBHANALLAAH..., Maha Suci Allah dari sifat-sfat sedemikian. Bahkan seandainya seluruh kaum muslimin di dunia tak ada yang sholat, tak ada yang mau berpuasa Ramadhan, tak ada yang mau berzakat, Allah sama sekali tidak akan pernah merugi.

Wahai para jilboob-ers dan jilass-ers, kalau usia kalian masih di bawah 30 tahun, mungkin kalian belum lahir atau masih balita saat-saat awal jilbab masuk Indonesia pada tahun ’80-an. Perjuangan para jilbabers generasi awal dulu sangatlah tidak mudah. Mereka mengalami pengusiran dari sekolah-sekolah, diberhentikan tanpa berhak ikut ujian akhir dan tidak mendapatkan ijazah, yang sudah bekerja dipecat dan dikeluarkan dari pekerjaan, yang belum bekerja tak akan ada yang mau menerima bekerja, dijauhi keluarga sendiri, dll. Ibaratnya dulu para pejuang kemerdekaan (jilbab) sampai “berdarah-darah” mempertahankan keyakinannya, kini generasi yang berikutnya tega-teganya menjadikan jilbab jadi bahan cemoohan karena perilaku para pemakainya yang justru bertentangan dengan hakikat berjilbab, yaitu MENUTUP AURAT.

Wahai para jilcuss-ers dan jiltics-ers, yang sampai hati menjadikan jilbab hanya sebatas selembar kain pencitraan, komoditas politik dan alat peraga kampanye semata, tidakkah kalian tengok para Polwan yang ingin menjalankan syariat Islam, masih harus menunggu lama sampai mereka diperbolehkan berjilbab?! Tidakkah kalian malu pada siswi-siswi Muslimah di beberapa sekolah Bali yang masih harus berjuang agar diperbolehkan berjilbab di sekolah?!

Semoga para jilboob-ers, jilass-ers, jilcuss-ers dan jiltics-ers segera mendapatkan hidayah Allah. Semoga hati nurani mereka masih takut pada Allah dan hari akhir, sehingga mereka berhenti mengada-adakan/mengarang sendiri aturan dan mendustakan ayat-ayat Allah, agar tak sia-sia amalannya. Yang sudah berjilbab, tak usah terpedaya tipu daya mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah. Allaahu a’lam...


Sumber