Video Monetize Ninja 468x60
Latest Updates

TUNGGU APA LAGI, AYO BERJILBAB!

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Islam merupakan agama yang syamil mutakamil, utuh dan menyeluruh. Tidak ada sedikit pun urusan yang luput dari perhatian Islam, termasuk seperti apa cara berpakaian untuk seorang muslim itu. Dalam hal ini, kita akan membahas tentang pakaian wanita muslimah.

Sebelumnya, perlu kita bedakan antara hijab, kerudung, dan jilbab. Ini agar kita tidak salah kaprah mengartikan ketiga hal tersebut. Dari segi bahasa, hijab dapat diartikan sebagai pembatas atau penghalang. Ibarat bangunan, dinding-dinding yang ada menjadi hijab antara ruangan satu dengan ruangan yang lain. Karena begitu luasnya definisi hijab, maka ada banyak jenis hijab. Seperti hijab yang ada di masjid untuk memisahkan tempat antara laki-laki dan perempuan, ada juga hijab hati, yakni berarti menghalangi hati dari segala penyakit dan dosa-dosa. Sementara jilbab, merupakan jenis hijab dalam aspek pakaian. Jilbab berbeda dengan kerudung. Karena jilbab yang dimaksud dalam Islam adalah pakaian yang dapat menutup aurat hingga tidak nampak lekukan aurat sedikit pun. Bagi wanita, jilbab secara syar’i itu yang menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Dan yang terpenting, jilbab syar’i itu berpenampang lebar, sehingga dapat menutupi lekukan dada. Sementara kerudung, itu hanya kain yang disematkan di atas kepala. Jelas kerudung tidak menutupi aurat secara penuh. Bahkan di kepala pun masih ada rambut-rambut yang terlihat.

Perintah berjilbab bagi wanita sudah jelas wajib hukumnya. Ini berkaitan dengan firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 59, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Pada awal turunnya ayat ini, di zaman Rasulullah SAW, wanita-wanita yang ada kala itu segera menutupi dirinya dengan kain yang ada di sekitarnya. Bagi yang ada di dalam rumah, gorden jendela lantas ditariknya untuk dijadikannya jilbab. Sementara mereka yang ada di luar langsung mencari tempat perlindungan agar bagian-bagian tubuh yang semestinya ditutupi dapat terlindungi.

Perintah berjilbab wajib bagi seluruh wanita muslimah ketika sudah baligh. Ukuran baligh bagi wanita adalah ketika dirinya sudah mengalami haid atau datang bulan.

Zaman sekarang, khususnya di Indonesia, perkembangan jilbab sudah sedemikian signifikan. Bahkan banyak dari beberapa pihak mengatakan bahwa Indonesia menjadi kiblat mode jilbab dunia. Kalau mau dibedakan, maka kita akan menemukan istilah jilbab syar’i dan jilbab modis. Keduanya baik jika dilihat dari kacamata yang positif. Hanya saja, perlu saya kemukakan bahwa dalam Islam yang dikehendaki adalah jilbab syar’i. Seperti apakah jilbab syar’i itu? Ada beberapa kriterianya. Pertama, harus longgar. Kain yang dikenakan tidak ketat dan dapat menutupi tubuh. Diiutamakan yang lebar agar dapat menjuntai dan bisa menutupi bagian dada. Kedua, tidak transparan. Artinya, kain yang digunakan cukup tebal dan tidak menampakan warna asli kulit. Ketiga, tidak mengenakan minyak wangi. Keempat, tidak menyerupai laki-laki. Kelima, tidak berpakaian syurah (menarik perhatian). Pakaian yang dikenakan diniatkan untuk ibadah kepada Allah dan bukan untuk menarik perhatian lawan jenis. Oleh sebab itu pakaian yang digunakan sebaiknya tidak terkesan mencolok dan berlebihan.

Lain halnya dengan jilbab syar’i, jilbab modis cukup digandrungi oleh kaum hawa di Indonesia. Sekali lagi, jika dilihat dari sudut pandang optimisme, ini baik. Ya, daripada buka aurat lebih jauh. Ini masih mending ditutupi, meski beberapa sisi masih punya kekurangan, seperti ketat dan tidak menutup dada. Namun demikian, kita juga kerap menemukan jilbab syar’i yang tak kalah modis kok. Jadi bagi kaum hawa, pilihlah jilbab terbaik, yakni jilbab yang memenuhi ketentuan syari’at.

Sekali lagi saya katakan, bahwa mengenakan jilbab itu wajib bagi wanita muslimah. Namun di kalangan sebagian wanita masih saja menghindari dirinya untuk segera berjilbab. Ada saja alasannya.

Dr. Huwayda Ismaeel, dalam sebuah artikel, mengemukakan sepuluh alasan yang kerap digunakan wanita muslimah untuk tidak segera berjilbab. Kesepuluh alasan tersebut akan saya jelaskan dengan singkat dan dengan gaya saya sendiri.

Pertama, “Saya belum benar-benar yakin akan fungsi atau kegunaan jilbab.” Kalau bilang alasan ini, apakah berarti dirinya tidak yakin dengan Islam? Astaghfirullah. Segeralah bertaubat saudariku.

Kedua, “Saya yakin jilbab penting. Tapi Ibu saya melarangnya. Kalau saya tidak menurut, nanti saya berdosa dan masuk neraka.” Saudariku, yakinlah, kalau kalian tidak menuruti perintah Allah untuk berjilbab, maka itulah yang menyebabkan kalian berdosa dan masuk neraka. Allah berfirman dalam surat Lukman ayat 15, “dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikutikeduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” Artinya, kepatuhan kepada Allah lebih diutamakan daripada kepatuhan kepada orangtua. Sebaliknya, kepatuhan kita kepada orangtua sebetulnya merupakan bagian kepatuhan kita kepada Allah. Jadi kalau ada orangtua yang mengajak anaknya untuk melanggar syari’at Islam, maka kita tidak punya kewajiban untuk menurut. Hendaknya mereka yang mendapati kasus seperti ini melakukan komunikasi dari hati ke hati kepada orangtuanya agar mereka mengerti dan mendukung pilihan saudari untuk berjilbab.

Ketiga, “Posisi dan lingkungan saya tidak memungkinkan untuk saya berjilbab.” Saudariku, Allah berfirman dalam surat at-Thalaq ayat 2-3, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangkasangkanya.” Yakinlah saudariku, jika kita istiqomah kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar yang lebih baik bagi kita. Janganlah karena ketakutan kita tidak dapat pekerjaan menjadikan kita melanggar ketentuan Allah. Yakinlah, masih banyak pekerjaan yang lebih baik yang dapat menerima wanita-wanita yang berjilbab.

Keempat, “Udara di sekitar saya amatlah panas. Kalau pakai jilbab akan jadi tambah panas.” Saudariku, panasnya dunia masih belum seberapa. Yakinlah, neraka jauh lebih panas! Allah berfirman dalam surat at-Taubah ayat 81, “… Api neraka itu lebih lebih sangat panas(nya) jikalau mereka mengetahui.

Kelima, “Saya takut tidak istiqomah. Kalau hari ini berjilbab, suatu hari saya kuatir melepasnya kembali.” Kalau begini terus mikirnya, kapan pakai jilbabnya? Sudah, bismillah, pakai saja jilbabnya. Kalau kuatir melepasnya kembali, makanya minta perlindungan kepada Allah agar dikuatkan untuk selalu istiqomah dalam berjilbab. Ketakutan itu ada karena mungkin belum dirasakan. Kalau sudah pakai jilbab juga nanti akan terbiasa kok.

Keenam, “Kalau pakai jilbab, jodohku akan sulit. Jadi pakai jilbabnya kalau sudah menikah saja.” Sadarilah bahwa jilbab tidak mengurangi kecantikan kalian saudariku. Sebaliknya, jilbab membuat kalian semakin anggun dan elegan. Soal jodoh, itu urusan Allah. Allah sudah tetapkan jodoh di lauh mahfuz bagi setiap manusia sebelum terlahir. Selain itu, alasan ini adalah prasangka semata. Tidak ada bukti secara ilmiah jika wanita berjilbab akan sepi jodoh dan bagi mereka yang tidak berjilbab akan segera menemukan jodohnya. Ini hanya ketakutan yang mengada-ada!

Ketujuh, “Saya tidak berjilbab karena mensyukuri nikmat tubuh yang Allah berikan. Bukankah dalam surat ad-Dhuha ayat 11 kita mesti menampakkan rasa syukur itu?” Haduh, jelas ini pemikiran ngaco! Sungguh ini tidak benar adanya. Justru ketika diri kita bersyukur, hendaknya diri kita menjaganya dengan baik, bukannya mengumbarnya kepada yang bukan mahram kita. Maka dari itu, pahamilah Islam secara utuh, jangan setengah-setengah. Pesan saya, ngaji sama ustadzahnya yang rajin ya. Jangan suka bolos. Peace!

Kedelapan, “Saya tahu pakai jilbab itu wajib, tapi saya merasa belum dapat hidayah.” Saudariku, hidayah itu harusnya dicari, bukan ditunggu. Bagaimana Allah akan memberi hidayah, kalau ternyata kita tidak pernah bersungguh-sungguh mendekati diri kepada Allah. Jika demikian semakin jauhlah kita dari hidayah. Coba renungkan, kalau ternyata kita nunggu hidayah, eh sebelum hidayah itu datang, kita sudah keburu mati, gimana? Mati dalam kondisi tidak berjilbab! Masya Allah.

Kesembilan, “Belum waktunya. Saya masih terlalu muda. Nanti saja kalau sudah besar atau sesudah naik haji.” Wah wah, semakin ada-ada saja alasannya. Sekali lagi, coba kalau sebelum jadi besar dan belum kesempatan naik haji, eh kita sudah dipanggil Allah. Wah, jadi berabe, kan?

Kesepuluh, “Saya takut kalau pakai jilbab nanti dicap sebagai golongan tertentu. Saya benci pengelompokkan?” Saudariku, jangan takut. Karena pengelompokkan di mata Allah hanya ada dua, yaitu hizbullah (kelompok yang patuh sama Allah) dan hizbusyaithan (kelompok yang patuh sama setan). Nah loh, mau kelompok yang mana? Kenapa harus takut pengelompokkan kalau pengelompokkan itu ternyata mengelompokkan diri kita sebagai orang yang baik dan dekat dengan Allah?

Allahu a’lam…

Disampaikan di Program Suara Rohani di Radio Suara Edukasi 26 Mei 2012.

Sumber

0 Response to "TUNGGU APA LAGI, AYO BERJILBAB!"

Post a Comment